Perokok, Orang yang Egois
Kata “egois” mungkin terdengar keras. Tapi kenyataannya, perilaku merokok di tempat umum sering kali menunjukkan satu hal: tidak peduli pada orang lain. Asap rokok tidak berhenti hanya di paru-paru perokok, ia menyebar, menempel, dan memaksa orang lain menghirup racun yang tidak pernah mereka pilih.
Ketika seseorang menyalakan rokok di dekat anak kecil, ibu hamil, atau orang tua, itu lebih dari sekadar kebiasaan. Itu adalah tindakan yang merampas hak orang lain untuk bernapas udara yang bersih. Orang di sekitarnya mungkin diam, tidak komplain, atau tidak berani bicara. Tapi diam bukan berarti tidak terluka. Tubuh mereka tetap menyerap racun yang sama. Risiko penyakitnya sama. Bahayanya sama.
Yang paling menyedihkan adalah: banyak orang berusaha menjaga diri, makan sehat, olahraga, dan menghindari polusi, namun tetap harus menanggung akibat dari asap orang lain. Mereka tidak memilih menjadi perokok pasif, tapi dipaksa, hanya karena seseorang merasa rokoknya lebih penting daripada keselamatan orang lain.
Egois itu ketika seseorang tahu bahayanya, tapi tetap merokok sembarangan. Egois itu ketika orang lain harus batuk, menutup hidung, atau menjauh, sementara perokoknya tetap merasa itu haknya. Padahal udara bersih adalah hak semua orang, bukan hanya yang tidak merokok.
Ini bukan tentang membenci perokok. Ini tentang mengingatkan bahwa kebiasaan itu punya dampak besar. Kita semua punya ruang untuk berubah. Kita semua bisa belajar menghargai ruang orang lain. Dan mungkin suatu hari nanti, kita bisa melihat lebih banyak orang yang sadar bahwa merokok tidak hanya merusak diri sendiri, tapi juga menyakiti dunia di sekitar mereka.
Karena tidak ada alasan yang lebih kuat daripada ini: hak bernapas tidak boleh dikorbankan demi sebatang rokok. 😷
Komentar
Posting Komentar